Thursday, May 31, 2012

Character Thursday #3: Pip (Great Expectations)



Menceritakan tentang tokoh yang menjadi favorit kebanyakan orang dari semua karya Charles Dickens yaitu Phillip Pirrip alias Pip merupakan hal yang susah-susah gampang. Ia merupakan tokoh yang patut dikasihani namun sempat membuat saya tidak simpatik sama sekali. Dalam kisah bildungsroman ini, Pip adalah tokoh protagonis yang mengalami perubahan karakter akibat pengaruh kuat dari orang-orang yang ditemuinya.

Pip kecil yang muncul pada awal kisah adalah seorang yatim piatu yang tinggal di pedesaan Inggris bersama kakaknya yang jauh lebih tua dan sudah menikah. Kakak Pip merupakan seorang yang ringan tangan (suka memukul) dan menganggap Pip beban yang enggan dipikulnya. Walau kekurangan kasih sayang dari orang tua maupun saudaranya sendiri, Pip cukup beruntung karena Joe Gargery, kakak iparnya memperlakukannya ia layaknya adik sendiri. Dengan latar belakang tersebut Pip tumbuh sebagai anak yang baik dan murah hati namun merasa insecure.
I do not recall that I felt any tenderness of conscience in reference to Mrs. Joe, when the fear of being found out was lifted off me. But I loved Joe,–perhaps for no better reason in those early days than because the dear fellow let me love him, –and, as to him, my inner self was not easily composed.
Pertemuannya dengan Miss Havisham dan anak angkatnya Estella mengubah karakter dan penilaiannya terhadap dirinya sendiri. Estella yang cantik namun arogan sering merendahkan Pip karena  kebodohan Pip (ia tak bisa membaca), tangannya yang kasar atau pakaiannya yang jelek dan kampungan. Hal ini bukannya membuat Pip membenci Estella dan golongannya tetapi membuatnya ingin menjadi seorang gentleman dengan pendidikan dan tata krama yang akan dikagumi Estella. 


Pada titik ini saya sangat kasihan pada Pip yang malang dan mengerti mengapa ia ingin menjadi sosok yang akan dihormati Estella. Namun sayangnya ambisi Pip ini membuat dia melupakan orang-orang yang selalu mengasihinya tanpa pamrih atau memandang status sosialnya. Joe dan Biddy, adalah orang-orang yang paling terluka ketika Pip yang telah menjadi gentleman enggan berkunjung ke rumahnya sendiri dan bahkan memperlakukan mereka seperti orang asing karena ia terpaku pada posisinya yang dianggap sudah mempunyai status sosial yang tinggi.

Walau ia sempat mejadi kacang lupa kulitnya, ia tetaplah Pip yang memang mempunyai hati yang baik. Ini terbukti bahwa ia diam-diam membantu Hebert, sahabatnya, dalam urusan bisnis sehingga Hebert menjadi seorang yang sukses. Pada akhinya Pip memang akan berubah karena menyadari bahwa orang yang selama ini mendanai dia untuk menjadi orang yang terhormat adalah seorang tawanan yang pernah ia tolong dulu, seseorang dengan status sosial terendah. Kenyataan ini merubah keseimbangan dunianya di mana ia berkeyakinan bahwa ia adalah orang dengan derajad yang tinggi. Beruntunglah hal  ini mebuatnya berubah kembali menjadi Pip yang murah hati dan rendah hati seperti sebelum ia bertemu dengan Estella. Ia pun mampu memaafkan segala tindakan maupun kata-kata kejam yang pernah dilontarkan Estella padanya.
Karakter Pip mengingatkan saya bahwa ambisi dapat membakar kita. Kekayaan dan status sosial bukanlah sesuatu yang abadi namun persahabatan dan persaudaraan akan selalu menjaga kita walaupun kita dalam keadaan terpuruk.
-------------------
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti bloghop Mbak Fanda @FandaClassicLit


#10 The Hunger Games






Judul Asli: The Hunger Games
Copyright © 2008 by Suzanne Collins
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Hetih Rusli
Cetakan 1: Oktober 2009; 408 hlm


Buku ini awalnya sudah saya masukkan dalam kategori yang tidak akan saya baca. Membaca sekilas sinopsisnya mengenai sebuah permainan bernama Hunger Games dengan settingmasa depan dimana Amerika Utara tidak ada lagi dan digantikan sebuah negara bernama Panem menurut saya adalah settingwaktu dan lokasi yang sama sekali tidak menarik, lain halnya apabila saya disuguhi Shire, Rivendell, Hogwarts atau kota dimanapun di Eropa maka minat baca saya pasti tak terbendung. Namun karena kabarnya film berdasarkan novel ini akan segera tayang dan saya adalah penggemar film sejati maka saya buru-buru mencari bukunya untuk nantinya dibandingkan dengan film tersebut.

Panem adalah sebuah negara makmur yang menguasai 12 distrik, dimana angka distrik berkorelasi erat dengan kemakmuran, semakin besar angkanya maka distrik itu semakin miskin. Tiap tahun negara ini mengadakan sebuah permainan dengan tujuan mengingatkan setiap distrik terhadap kekuasaan mereka yang akan dengan mudah menghancurkan distrik yang tidak patuh. Permainan Hunger Games keliatannya mengadaptasi teori Darwin, survival of the fittest. Masing-masing distrik wajib mengirimkan 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan berusia diatas 12 tahun untuk menjadi peserta. 24 peserta dari masing-masing distrik akan ditempatkan di suatu lokasi dimana mereka harus berebut persediaan makanan juga  senjata untuk bertahan hidup a.k.a untuk menghabisi satu sama lain. Sebagai pemenang mereka tidak hanya menyelamatkan diri sendiri namun juga memberikan kemakmuran bagi distrik darimana mereka berasal.

Belum sempat nonton film-nya :P
Katniss, anak yatim dari Distrik 12 menggantikan adiknya untuk menjadi peserta permainan tersebut. Rekannya tak disangka-sangka adalah seorang lelaki yang diyakininya pernah menolongnya saat ia hampir kelaparan di masa kecilnya dulu. Namun hanya satu orang yang hanya bisa menjadi pemenang, ia pun terpaksa mengesampingkan perasaan hutang budinya. Namun semua itu menjadi bertambah sulit ketika tak disangka-sangka Peeta, rekannya, menyatakan cinta tepat sebelum permainan dimulai. Katniss curiga bahwa ini hanyalah tipu daya Peeta, karena dalam Hunger Games, tidak ada satupun peserta yang dapat dipercaya apalagi dijadikan teman walaupun mereka berasal dari satu distrik.

Bagian paling menarik adalah bagaimana penulis menjabarkan cara-cara berburu, memasang perangkap dan cara para tokoh mengenali  tumbuh-tumbuhan mana yang tidak beracun untuk dimakan. Selain itu cara Katniss bertahan hidup dengan menghindari membunuh lawan  juga patut disimak. Secara keseluruhan buku ini cukup menarik tetapi saya rasa cukup dibaca sekali saja. I gave this book 3 of 5 stars. How about you?

Tuesday, May 29, 2012

#9 Great Expectations (ebook)



This book is the first Dickens book that I have read. I began to curious about Dickens works because of Oliver Twist movie, it was a heart touching movie and made me crying every time I watch it. I read this book because I want to know the real story of Pip and Estella (the main character) in books after I watch the movie version (again!) starred by Ethan Hawk and Gwyneth Paltrow. When I see the movie starred by Ethan Hawk as Finn or Pip in this book, he was very lovely protagonist that always tortured by Estella. But in this book I found that I’m not very fond of Pip. His ambitions and his neglecting toward Joe and Biddy made him far from gentleman character that he dream to be.

This book is categorized as Bildungsroman, a German word for coming of age story. It is a literary genre that focuses on the physiological and moral growth of the protagonist from youth to adulthood (coming of age), and in which character change is thus extremely important. In this book, Pip’s character eventually changes from cold-heart ambitious man to warmth and humble gentleman. Sadly, he must go through some low point in his life before his personality change.

Great Expectations, the movie version
This story begin when Pip meet a convict who is escape and threatened him to give him food. Pip soon forget this encounter because his attention fully focused on Estella, Miss Havisham adopted girl. Pip who supposed to be friends with her by the request of Miss Havisham, and old splinter who left in the altar, fell in love immediately with Estella. But his feeling rejected by Estella and Pip begin to think that he must change himself to be a gentleman to have her. His wish suddenly fulfilled. A mysterious benefactor wants him to move to London to learn how to be a real gentleman. His decision to move is going to change his life story and also he used to be. But the intrigue doesn’t stop here, but it’s going more interested after he found out who is the real benefactor of him.  

It took me three months struggling on and off to read this book because I was too dare to read the English version knowing that my English is not superb and secondly because the version of this eBook has 1150 pages! It’s quite thick English eBook for me but it worth every minute I spend to read it. I gave 4 of 5 stars to Charles Dickens because he made a story that full of moral lesson and the rich personality of all the character. It is pleasant surprise when I find that all the characters connect to one another in a very strange way, this one of many reasons that keeps me reading this book.

P.S. I made this review to catch up with Victorian Novel Challenge 2012 which is held by Laura@Laura's Reviews

Tuesday, May 22, 2012

#8 Petualangan Sherlock Holmes


“Semakin tak menentu sesuatu (kasus), ternyata tak terlalu misterius jadinya. Justru yang biasa-biasa saja itulah yang benar-benar memusingkan kepala....”

Kutipan di atas adalah hipotesis atau teori yang selalu dipegang Sherlock Holmes dalam menyingkap semua permasalahan yang dibawa klien-nya. Sesuatu yang nampak wajar atau biasa atau suatu kasus yang terlalu kentara penyelesaiannya malah membutuhkan pemikiran ekstra untuk menyelesaikannya.

Setelah selesai membaca kumpulan cerita Sherlock Holmes ini saya jadi sependapat dengan detektif nomor satu di inggris ini. Misalnya ketika ia menangani kasus Mary Sutherland yang kekasihnya tiba-tiba menghilang atau ketika ia menghadapi kasus dugaan pembunuhan terhadap suami Nyonya St. Clair. Apa yang tampak aneh ternyata penyelesaiannya mudah saja karena pada akhirnya diketahui bahwa tidak ada orang yang hilang atau siapapun yang dibunuh.  

Kondisi ini sangat berlawanan dengan kisah putra pemilik bank yang dituduh mencuri tiara milik klien ayahnya atau kisah pemuda McCarthy yang ditangkap karena telah membunuh ayahnya. Semua bukti mengarah pada mereka dan mereka pun dapat dianggap mempunyai motif yang jelas namun Sherlock mampu menguak kebenaran yang sesungguhnya. Apa yang tampak jelas di depan mata tidak selalu menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Sekali lagi ini adalah bukti dari teori Holmes.

Sherlock Holmes terbitan Gramedia tahun 1992
Metode Sherlock dalam menguak misteri adalah kemampuannya mengamati dengan baik segala sesuatunya. Mungkin ia dan Watson melihat hal yang sama, mendengar kisah yang sama atau berada dalam lokasi yang sama namun hasil pengamatan diantara mereka amat berbeda. Itulah yang sering dikeluhkan oleh Sherlock bahwa orang pada umumnya tidak mengamati namun hanya sekedar melihat atau mendengar sepintas lalu. Sherlock yang egois dan cenderung arogan ini memang mempunyai sifat yang kurang menyenangkan. Namun ia mengerjakan semua kasusnya bukan berdasarkan imbalan yang akan diperoleh namun karena kasus tersebut dianggap unik dan menantang pikirannya.

Terlepas dari sifat Holmes yang dianggap menyebalkan ia sebenarnya berhati mulia. Tak semua pelaku kejahatan ia jebloskan ke dalam penjara. Saya sendiri tidak merasa bahwa ini dibiarkan oleh hukum Inggris yang berlaku saat itu. Namun Sherlock percaya pada sifat baik yang dimiliki setiap orang, ia membebaskan seorang pembunuh karena ajalnya tak lama lagi akan tiba, ia membebaskan seorang pencuri karena melihat penyesalan tulus si pencuri dan ia juga membebaskan seorang penipu yang sungguh-sungguh berjanji bahwa ia tak akan mengulangi penipuannya. Menurut saya ini tindakan yang riskan untuk dilakukan namun beberapa alasan cukup masuk akal, seseorang yang dijebloskan penjara cenderung untuk bolak balik masuk penjara kembali.

Yuk rame-rame bikin review tentang buku Sherlock Holmes... klik saja gambarnya
Petualangan Sherlock Holmes adalah sebuah buku kumpulan kisah pendek petualan Sherlock Holmes yang dituliskan kembali oleh sahabatnya dr. Watson. Kisah-kisah yang dituliskan sangat unik dan membuat saya tertantang untuk mengikuti cara berpikir Sherlock dengan menebak-nebak siapa pelakunya. Saya belajar bahwa si penjahat pada umumnya adalah orang-orang yang dekat dengan korban, baik itu keluarga, sahabat atau rekan sekerja. Dengan mengikuti kisah demi kisah saya juga jadi ingin menjadi orang yang lebih teliti lagi dalam mengamati suatu hal ataupun peristiwa, siapa tahu saya menemukan tindak kejahatan yang perlu dibongkar. :P

Namun saya agak kecewa dengan tampilan buku terbitan Gramedia ini. Sampul depannya bagus dan berkesan elegan namun kertasnya buram dan tipis bahkan pada buku yang saya beli ini ada beberapa halaman yang hurufnya membayang, beberapa baris hurufnya berkesan lebih kecil  dari yang biasanya dan ada bagian yang cetakannya hilang. Untuk buku sekelas pengarang Sir Arthur Conan Doyle, kualitas kertas yang lebih baik dengan pemilihan font dan besar font yang lebih baik rasanya layak digunakan. Saya membandingkan buku ini dengan buku terbitan Gramedia lain seperti buku Nh Dini, jelas berkesan buku Sherlock ini kalah jauh dari segi penampilan. Walau mungkin harganya menjadi lebih mahal, namun saya yakin kisah Sherlock Holmes ini akan tetap dicari banyak orang karena kisahnya mampu memukau pembaca dari berbagai generasi.

Thursday, May 17, 2012

Character Thursday #2: Laura Ingalls Wilder



Little House on the Prairie merupakan tontonan wajib di masa kecilku di TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada pada saat itu. Aku mengingat Laura dalam film serial sebagai gadis berambut coklat berkepang dua yang tomboy, penuh semangat dan suka berpetualang. Sifatnya ini berlawanan dengan Mary kakaknya yang penurut, rajin dan pandai. Menurutku Laura ini adalah anak kesayangan Papanya sedangkan Mary adalah kesayangan mamanya, mungkin ini disebabkan kesamaan karakter masing-masing.

Laura yang belum genap 10 tahun bersama keluarganya berkelana untuk menjelajahi daerah Barat yang belum banyak dihuni orang kulit putih, kebanyakan orang Indianlah yang bermukim di sana. Berada di padang rumput yang jauh dari mana-mana, bahkan tetangga dekat pun tak ada, tak meyurutkan semangat Laura untuk bertualang. Ia senang bermain di padang rumput, di sungai bahkan di tumpukan jerami yang dengan susah payah dibuat oleh Pa Laura. Ia seringkali melanggar larangan ayahnya demi memuaskan rasa ingin tahunya, misalnya Laura nekat bermain di sungai yang dalam alhasil ia nyaris terseret arus sungai yang deras, untungnya ia selamat dari arus sungai tersebutn namun kejadian tersebut tidak jua membuat ia jera.


Walau seringkali membuat kenakalan-kenakalan konyol, Laura sangat suka membantu dan ingin menjadi orang yang berguna bila Pa dan Ma membutuhkannya. Sifatnya yang penyayang dan pemberani membuatnya dapat bertindak dengan tepat pada masa kritis. Saat cerobong asap mereka kebakaran, ada sebatang potongan kayu besar yang tiba-tiba hendak mengenai Mary dan Carrie yang sedang duduk di kursi goyang, Laura dengan sigap menarik kursi tersebut menjauh dari perapian dan segera membuang kayu yang terbakar itu kembali ke perapian agar tak membakar lantai kayu. Laura juga menunjukkan keberaniannya memadamkan api dengan karung goni yang basah ketika ada roda api membakar padang rumput di sekeliling mereka.

Laura yang periang ternyata juga mempunyai musuh besar bernama Nellie Oleson, putri pemilik toko di kota yang kaya dan sombong. Nellie yang egois dan suka pamer membuat Laura benci padanya namun segala yang dimiliki Nellie juga membuat ia iri bukan main. Seperti misalnya ia sangat menginginkan sarung tangan dan syal milik Nellie yang dipakainya saat Natal tiba atau boneka dengan baju sutra yang amat cantik milik Nellie. Namun didikan Pa dan Ma membuat Laura mampu meredam emosinya dan sebisa mungkin tetap bersikap baik pada Nellie.


Laura di sini memang merupakan tokoh sentral dalam Seri Little House yang merupakan pengalaman nyata  masa kecil penulisnya. Seri ini dikategorikan dalam buku cerita pengembangan karakter yang menurut saya memang pas dibaca oleh anak-anak dan remaja karena sarat dengan karakter-karakter yang patut dicontoh dalam menghadapi konflik sehari-hari.

-----------------------
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti bloghop Mbak Fanda @FandaClassicLit


Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di box di bawah button (cukup copas saja kode itu di posting atau di sidebar kalian).
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: "Nama blogger @ nama blog", misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Wednesday, May 16, 2012

#7 A Study in Scarlet (ebook)

This is the first Arthur Conan Doyle work that I have read. My imagination about Sherlock Holmes and Doctor John Watson were mainly influenced by Sherlock movie starred by Robert Downey Jr and Jude Law and a little bit by BBC movie version. This was his first novel of many series of Sherlock Holmes adventure. First, Doctor Watson introduces himself as a military doctor that have wounded during war and also having trouble to afford living in the hotel like he used to be. This shortcoming surprisingly has been Sherlock Holmes problem too. Neglecting a warning by his friend about how weird Sherlock is, he decided to share an apartment at 221B Baker Street with him.

This two gentlemen finally get along despite of Sherlock strange habits and Watson quickly become Sherlock number one’s fan after this greatest detective in English history could guess every detail of people by just observing. He called it Science of deduction, how we find a cause of impact or result that we now faced. Doctor Watson luckily soon will see the proof of this theory after Lestrade and Tobias Gregson (Scotland Yard officer) ask Sherlock help to find a murderer of two men.

Sherlock ways to solve this mystery puzzle was by a keen observation. In no time he could just describe the characteristic of murderer and how the murder was held by noticing the ashes of cigarettes, the footprints, the wheel mark in the street and horse’s hoof. Most of them were merely small things that common people did not pay attention at all. But hold on because there are more surprises from Sherlock brain and the best was he could make the murderer come to his house voluntarily not knowing that his crime was solved by Sherlock. Brilliant!


Enjoying each explanation about Sherlock action made me hope that this book would reveal more examples of Sherlock great minds but almost half part of this book was telling us about the background and the murderer’s motif. I think it’s rather too long but fortunately did not make me bored.

My favorite Sherlock Holmes quotes are
“I consider that a man's brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose. A fool takes in all the lumber of every sort that he comes across, so that the knowledge which might be useful to him gets crowded out, or at best is jumbled up with a lot of other things.... now the skillful workman is very careful indeed as to what he takes into his brain-attic.
"It is a mistake to think that that little room has elastic walls and can distend to any extent. Depend upon it there comes a time when for every addition of knowledge you forget something that you knew before.”

In some way I think this theory was making sense, but I remember that I have read that most human usually only use 10 percent of his/her brain. We can maximize our brain ability by regularly use it in proper way. I wonder if we learn to optimize our brain, will we become as smart as Sherlock Holmes. The funny thing was that belief made Sherlock Holmes had zero knowledge about common things, for example he didn’t familiar with the composition of solar system or anything about literature and philosophy.

The last but not the least I think the character of this Sherlock Holmes is a classic type of genius who is arrogant, despise the lower mind surround him and although he don’t admit, he continually hunger for recognition for his work but in a good way not in terrible way. But soon I realize that was the main reason why I really love this detective, a completely nerd. :)

as
BBC version of Sherlock Holmes
P.S. I made this review to catch up with Victorian Novel Challenge 2012 which is held by Laura@Laura's Reviews

Monday, May 14, 2012

#6 Sang Penari



Buku ini adalah bacaan waktu SMA dulu, saat itu buku ini masih merupakan tiga buku yang terpisah yaitu: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Ahmad Tohari, sang pengarang, merupakan nama yang masih asing bagiku namun Srintil dan Rasus yang hidup di Desa Paruk merupakan kisah yang tidak mudah dilupakan. 

Buku ini diawali dengan deskripsi kehidupan Dukuh Paruk yang terpencil, terbelakang dan miskin; sebuah desa yang terlupakan namun tetap bertahan karena kebanyakan penghuninya tidak neko-neko, nrimo ing pandum, atau hidup tanpa ambisi kalau menurut kacamata abad 21. Seluruh warga hidup tentram  tanpa konflik yang rumit, satu-satunya impian mereka adalah roh indang ronggeng kembali bersedia merasuki salah satu anak atau cucu perempuan mereka, sehingga warga dukuh yang mengaku sebagai keturunan Ki Secamenggala ini dapat berkibar lagi namanya sebagai dusun ronggeng.


Ketika melihat cucunya, Srintil yang belum genap 10 tahun, menari layaknya seorang ronggeng profesional di depan teman bermainnya (salah satunya adalah Rasus), Ki Sakarya gembira bukan kepalang. Untuk memastikannya ia berkonsultasi dengan Ki dan Nyai Kertareja yang merupakan dukun ronggeng, ia yakin kedua orang itu akan segera mengenali bakat alami Srintil, alhasil ketiga sesepuh desa itupun sepaham, Srintil memang telah dihinggapi roh indang ronggeng. Sebagai seorang gadis belia, dirias, diberi pakaian bagus, dimanjakan banyak orang, dipuji sana sini, ditonton belasan orang adalah nirwana di dunia. Namun semua berubah ketika ia harus menjalani acara bukak-klambu untuk menasbihkan dirinya sebagai ronggeng sejati, hidup Srintil bukan lagi menjadi miliknya sendiri namun milik setiap lelaki yang menginginkannya. Cukup dengan bayaran 1 kerbau, Srintil mencicipi neraka di dalam nirwana.

Menyadari Srintil bukan lagi miliknya pribadi, Rasus yang mengklaim sebagai sahabat Srintil sejak kecil, pergi dari dukuh. Nasib membawanya bertemu kumpulan tentara dan beberapa tahun kemudian ia pun menjadi salah satu dari mereka. Ketika neneknya tiada Rasus terpaksa pulang ke kampung halamannya. Melihat Rasus pulang berseragam tentara, warga dukuh bangga nian, salah satu keturunan mereka akhirnya menjadi seseorang yang terhormat. Para tetua pun mengharapkan ia untuk menetap dan memimpin dukuh itu agar dapat keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan mereka. Lain halnya dengan Srintil, ia hanya melihat bahwa kepulangan Rasus merupakan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka namun cinta Srintil tidak diindahkan Rasus. Ia pergi tanpa pamit walau jujur sakit hati dirasanya ketika menghadapi kenyataan bahwa Srintil masih menjadi ronggeng, permintaan untuk memajukan kampungnya pun tak dipikirkan lagi.


Kepergian Rasus membuat Srintil marah, ia pun berontak terhadap kedua gurunya, ia hanya mau menari, dan tidak ingin melayani lelaki manapun dengan bayaran semahal apapun. Ia pun giat menerima tawaran menari dimana-mana sehingga aksi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan hiburan wajib di berbagai hajatan penting. Ketenaran Srintil beserta kelompok ronggengnya tidak membuat mereka menjadi lebih pintar, keluguan menggiring mereka menjadi alat propaganda salah satu partai politik. Segera setelah tragedi September 1965 terjadi, kelompok ronggeng pun dituduh terlibat dan beberapa personelnya ditahan termasuk Srintil. Bagaimanakah Srintil akan dapat meneruskan hidupnya setelah menjadi tahanan politik? Apakah Rasus masih mau peduli terhadap dirinya dan dukuh mereka?

Keindahan novel ini ada pada kelihaian Ahmad Tohari melukiskan hal-hal kecil mengenai kehidupan dan alam Dukuh Paruk sehingga membuat dusun biasa dan kebanyakan ini menjadi  istimewa. Dalam novel ini pun kita dibawa untuk memahami dunia ronggeng dengan lebih manusiawi. Alur ceritanya cepat dan ditanggung tidak membosankan. Penggambaran karakternya kuat sehingga tak sulit untuk mudah terbawa dalam kesedihan ataupun dilema yang dialami tokoh-tokohnya, seperti saat Srintil menjadi amat terpuruk ketika untuk kesekian kalinya dipermainkan oleh lelaki atau dilema yang dihadapai Rasus ketika diharuskan memilih antara karir ketentaraannya atau cintanya pada Srintil. Novel ini (jika dapat saya rangkum) merupakan sebuah kisah mengenai keluguan (atau kebodohan?) yang fatal di jaman yang carut marut. Bravo ahmad Tohari!

Thursday, May 10, 2012

Character Thursday #1: Rasus (Sang Penari)


Sang Penari merupakan novel karya Ahmad Tohari, dengan setting suasana pedesaan, Duluh Paruk. Secara garis besar novel ini bercerita tentang seorang ronggeng bernama Srintil yang menjadi tumpuan harapan dari warga dukuh untuk kembali mengibarkan nama mereka sebagai dusun ronggeng.

Sebenarnya akan lebih mudah membahas tentang Srintil, tak sulit untuk jatuh hati pada tokoh lugu ini. Namun keluguan itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan akibat adanya tokoh Rasus. Rasus, lelaki teman sepermainan Srintil sejak belia ini dapat dianggap tokoh protagonis namun saya lebih suka menganggapnya sebagai tokoh antagonis yang membuat Srintil menjadi tidak waras.


Rasus kecil adalah fans berat Srintil. Kehilangan orang tua khususnya ibu yang kisahkematian atau kehilangannya tak pernah jelas bagi Rasus membuat ia mencari sosok ibu pada diri Srintil. Ketika Srintil tak lagi eksklusif milik dirinya namun menjadi ronggeng milik semua orang, Rasus patah hati dan memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya. Bahkan keperawanan Srintil yang diserahkan padanya sebelum acara bukak-klambu tidak mampu menahannya.

Sampai sejauh ini saya menganggap tokoh Rasus adalah pahlawan bagi Srintil. Satu-satunya sahabat yang mengerti isi hati Srintil sebenarnya. Ia bahkan mendukung karir Srintil dengan memberikan keris milik keluarga untuk perlengkapan manggungnya. Tatkala kampanye partai politik (PKI) mulai menyentuh Dukuh Paruk, Rasus pulang lantaran neneknya meninggal. Tentunya ia disambut dengan gembira oleh seluruh dusun, terutama Srintil yang telag lama nenantinya. Akhirnya seorang anak dusun dapat menjadi tentara, posisi mulia yang tidak berani diimpikan oleh warga dusun, namun Srintil punya harapan lain.


Merasa tidak punya sesuatu yang dapat menahannya lagi di dukuh tersebut, Rasus memutuskan pergi menjauh dari tanah kelahirannya. Bahkan ia pun tak berani jujur untuk mengakui perasaannya pada Srintil. Namun takdir membawanya pulang kembali ketika Srintil menjadi tahanan politik. Pertemuan mereka di tahanan hanya berbuah tangis Srintil, Rasus hanya diam. Lagi-lagi ia tak berani mengungkapkan perasaannya.

Ketika Srintil akhirnya bebas dari tahanan dan memutuskan untuk berhenti jadi ronggeng, banyak orang menasehati Rasus untuk memperistri mantan ronggeng itu. Namun citra diri ibunya yang sudah hilang pada Srintil serta pemikiran logis bahwa ia seorang tentara tidak dapat menikahi bekas tahanan politik -karena menikah sama dengan ia keluar dari tentara- membuat Rasus enggan melabuhkan hatinya.

Kalau hendak berpikir logis, memang masa depan Rasus akan hilang seketika bila ia menikah dengan Srintil, namun di lain pihak perempuan itu adalah satu-satunya wanita yang ia cintai, chemistry di antara mereka demikian kuat. Akhirnya karir mengalahkan cinta, logika yang wajar namun berakibat mengenaskan. Ketidaktegasan sikap Rasus membuat Srintil masuk dalam perangkap Bajus, merasa dikhianati untuk sekian kalinya oleh lelaki, Srintil pun terseret dalam dunianya sendiri.


Rasus yang mengetahui kondisi Srintil segera membawanya ke rumah sakit untuk dirawat. Ketika ditanya petugas rumah sakit, barulah ia mengakui keberadaan Srintil di hatinya. Pengakuan itu membuat hati Rasus lega, namun semua sudah terlambat. "If you really love someone, just say it!", rasanya saya ingin meneriakkan kata-kata itu pada Rasus. Sayang, saya belum sempat melihat akting Oka Antara dalam film berjudul sama, ia mendapat nominasi aktor terbaik pada Indonesian Movie Award. Saya penasaran melihat terjemahan tokoh ini di film. Semoga tidak mengecewakan.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti bloghop Mbak Fanda.


Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di box di bawah button (cukup copas saja kode itu di posting atau di sidebar kalian).
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: "Nama blogger @ nama blog", misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…
Published with Blogger-droid v2.0.4