Tuesday, August 14, 2012

#11 Water for Elephants


Honestly, saya sama sekali tidak tertarik untuk baca buku ini. Berhubung bulan ini temanya hisfic dan beberapa narablog serta anggota goodreads nampaknya terpikat hingga memberikan rating tinggi pada buku ini maka saya memutuskan untuk membelinya (alasan sebenarnya: sedang ada diskon besar-besaran di Gramedia). And surprisingly, saya menikmati membaca buku ini.

Kisah ini dimulai dengam kehidupan Jacob Jankowski, peranakan Polandia berusia 90 tahun atau 93, dia sendiri juga tidak yakin, yang tengah mengenang kehidupannya waktu bergabung dengan sebuah sirkus kereta api. Tidak pernah ada dalam pikiran Jacob muda, seorang calon dokter hewan, anak seorang dokter hewan pula, untuk bergabung dengan dunia hiburan macam sirkus. Namun kehilangan kedua orang tuanya pada saat bersamaan akibat kecelakaan membuat ia bingung menjalani hidup, ia merasa tak punya tujuan dan tak punya "rumah" lagi.

Puncaknya adalah ketika Jacob merasa tak mampu menyelesaikan ujian akhirnya, ia berjalan tak tentu arah lalu nekat menaiki kereta yang sedang perlahan melintas di depannya. Keputusan tak masuk akal ini berujung pada pengalaman yang akan mengubah perjalanan hidupnya secara keseluruhan. Dunia hiburan yang tanpa kepastian secara perlahan-lahan menjadi awal dari kehidupan barunya bersama keluarga baru termasuk Rosie, seekor gajah yang dikira dungu. Penasaran? You definitely must read this book.^^



Sirkus tempat Jacob bergabung adalah Benzini bersaudara. Sirkus yang bangkrut namun perlahan mulai bangkit lagi melalui tangan dingin Al, pemilik barunya. Al bertekad membuat sirkusnya mampu bersaing dengan Ringling Circus, sebuah sirkus ternama yang pada kenyataannya memang merupakan sirkus yang berjaya pada tahun 1935. Masa dimana sirkus kereta api sedang menjamur dan bergantian jatuh bangkrut. Banyak istilah dan lika liku kehidupan sirkus yang bisa diperoleh dari buku ini. Misalnya ada dua kelas dalam kelompok sirkus yang disebut performer atau kinker dan kelompok pekerja.

Menarik sekali bahwa tim pekerja ini merupakan kasta terendah dalam sebuah sirkus, mereka seringkali tidak mendapat bayaran terutama bila sirkus tak punya banyak pengunjung, mereka sering tidur bersama hewan, tidak punya gerbong khusus, jarang mendapat jatah air untuk mandi dan tempat makan pun terpisah dari para performer. Selain itu ternyata ada juga "sirkus di dalam sirkus", pertunjukan tak resmi namun menyedot banyak pengunjung terutama pria, you can guess! Yang mengejutkan ternyata ada beberapa para pendorong yang tugasnya memang mendorong penonton (dalam arti harafiah) supaya masuk ke tenda sirkus.



After all, saya menikmati buku ini karena penuturannya menarik, ending yang cukup mengejutkan dan berbagai pengetahuan baru mengenai dunia sirkus. Saya sebenarnya ingin menonton filmnya tapi agak kecewa ketika mengetahui Robert Pattinson yang memerankan Jacob, kupikir Leonardo di Caprio, Shia Lebouf atau Tobey Maguire akan lebih cocok memerankan pemuda innocent di tengah dunia sirkus yang penuh intrik. Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam benak saya, apakah makna judul buku ini, Water for Elephants. Apakah itu sebuah metafora? Setelah bertanya pada Mbah Gugel saya mendapatkan bahwa kemungkinan artinya adalah seseorang yang mempunyai beban yang berat atau people who pretending to be more than they are. Untuk lebih lengkapnya simak saja diskusi ini di goodreads: Symbolism: What is the "Water" and who is the "Elephant"

**Review ini ditulis bulan kemaren untuk posting bersama BBI, namun baru sempat diedit dan dipublish hari ini :p

No comments:

Post a Comment